Memotivasi belajar
anak
Rochman, N dan Moein, M (Abimanyu, S dkk, 2000: 92-97)
mengemukakan beberapa teknik yang dapat dilakukan oleh guru dalam upaya
memotivasi kegiatan belajar anak. Tenik-tekni motivasi itu adalah sebagai
berikut:
1) Pernyataan penghargaan secara verbal
2) Menggunakan nilai ulangan sebagai pemicu keberasilan
3) Menimbulkan rasa ingin tahu
4) Memunculkan sesuatu yang tidak diduga oleh anak
5) Menjadikan tahap dini dala belajar mudah bagi anak
6) Menggunakan materi yang dikenal anak sebagai contoh dalam belajar
7) Gunakan kaitan yang unik dan tak terduga untuk menerapkan suatu konsep dan prinsip yang telah di pahami
8) Menuntut anak untuk menggunakan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya
9) Menggunaka simulasi dan permainan
10) Member kesempatan kepada anak untuk memperlihatkan kemahirannya di depan umum
11) Mengurangi akibat yang tidak menyenangkan dari keterlibatan anak dalam kegiatan belajar
12) Memahami iklim social di sekolah
13) Memanfaatkan kewibawaan guru secara tepat
14) Memperpadukan motif-motif yang kuat
15) Memperjelas tujuan belajar yang hendak di capai
16) Merumuskan tujuan-tujuan sementara
17) Memberitahukan hasil yang telah di capai
18) Membuat suasana persaingan yang seha di antara para anak
19) Membuat suasana persaingan dengan diri sendiri
20) Memberikan contoh yang positif
Sedangkan Mudjiono dan Dimyati (1994: 92-97) menyatakan bahwa upaya meningkatkan motivasi belajar sebagai berikut:
1) Optimalisasi penerapan prinsip belajar
2) Optimalisasi unsur dinamis belajar dan pembelajaran
3) Optimalisasi pemanfaatan pemahaman dan kemapuan siswa
4) Pengembangan cita-cita dan aspirasi belajar
Kemdian oleh Utuh, H (1986: 26) menyatakan bahwa motivasi belajar dapat diberikan dengan tindakan-tindakan sebagai berikut sebagai upaya menigkatkan motivasi belajar siswa, yaitu:
1) Menunjukkan manfaat dan tujuan dari kegiatan belajar yang akan dilaksanakan
2) Membesara hati siswa
3) Memberikan penjelasan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami siswa
4) Bersifat simpatik
5) Memberikan kesempatan bertanya
6) Memberikan kesempatan menjawab
7) Mempergunakan alat peraga dengan cara yang tepat
8) Bersikap adil, jangan sampai terjadi pilih kasih
9) Segera membagikan hasil pekerjaan
10) Memberikan esempatan bertanya jika terdapat kesalahpahaman
11) Memberikan kesempatan untuk memecahkan masalah bersama
12) Mengatur ruangan kelas yang menimbulkan kegairahan belajar
13) Bersedia meminta maaf dan memaafkan
14) Bekerja tepat pada waktunya
15) Merapikan dan menjaga kebersihan pakaian
16) Menyesuaikan bahan pelajaran dengan kemampuan siswa
17) Meberikan tugas dan memberikan hasilnya
Uraian di atas, ,memberikan gambaran bahwa dengan adanya pandangan beberapa ahli yang menekankan segi-segi tertentu pada motivasi tersebut justru mengisyaratkan agar guru bertindak taktis dan kreatif dalam mengelola motivasi belajar siswa. Motivasi belajar dihayati, dialami dan merupakan kekuatan mental pebelajar dalam belajar. Dari diri siswa, motivasi tersebut perlu dihidupkan terus untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan dijadikan dampak pengiring yang selanjutnya menimbulkan program belajar sepanjang hayat, sebagai perwujudan emansipasi, kemandirian yang terwujud dalam cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa, kemampuan siswa mengatasi kondisi lungkungan negative dan dinamika siswa dalam belajar. Dari sisi guru, motivasi belajar pada pebelajar berada pada lingkup program dan tindakan pebelajar. Oleh karena itu, guru berpeluang untuk meningkatkan, mengembangkan dan memeliharas motivasi belajar yang ada pada siswa. Dengan demikian, motivasi belajar pada siswa yang harus diidentifikasi oleh guru seyogyanya dikelola dalam acara pembelajaran
1) Pernyataan penghargaan secara verbal
2) Menggunakan nilai ulangan sebagai pemicu keberasilan
3) Menimbulkan rasa ingin tahu
4) Memunculkan sesuatu yang tidak diduga oleh anak
5) Menjadikan tahap dini dala belajar mudah bagi anak
6) Menggunakan materi yang dikenal anak sebagai contoh dalam belajar
7) Gunakan kaitan yang unik dan tak terduga untuk menerapkan suatu konsep dan prinsip yang telah di pahami
8) Menuntut anak untuk menggunakan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya
9) Menggunaka simulasi dan permainan
10) Member kesempatan kepada anak untuk memperlihatkan kemahirannya di depan umum
11) Mengurangi akibat yang tidak menyenangkan dari keterlibatan anak dalam kegiatan belajar
12) Memahami iklim social di sekolah
13) Memanfaatkan kewibawaan guru secara tepat
14) Memperpadukan motif-motif yang kuat
15) Memperjelas tujuan belajar yang hendak di capai
16) Merumuskan tujuan-tujuan sementara
17) Memberitahukan hasil yang telah di capai
18) Membuat suasana persaingan yang seha di antara para anak
19) Membuat suasana persaingan dengan diri sendiri
20) Memberikan contoh yang positif
Sedangkan Mudjiono dan Dimyati (1994: 92-97) menyatakan bahwa upaya meningkatkan motivasi belajar sebagai berikut:
1) Optimalisasi penerapan prinsip belajar
2) Optimalisasi unsur dinamis belajar dan pembelajaran
3) Optimalisasi pemanfaatan pemahaman dan kemapuan siswa
4) Pengembangan cita-cita dan aspirasi belajar
Kemdian oleh Utuh, H (1986: 26) menyatakan bahwa motivasi belajar dapat diberikan dengan tindakan-tindakan sebagai berikut sebagai upaya menigkatkan motivasi belajar siswa, yaitu:
1) Menunjukkan manfaat dan tujuan dari kegiatan belajar yang akan dilaksanakan
2) Membesara hati siswa
3) Memberikan penjelasan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami siswa
4) Bersifat simpatik
5) Memberikan kesempatan bertanya
6) Memberikan kesempatan menjawab
7) Mempergunakan alat peraga dengan cara yang tepat
8) Bersikap adil, jangan sampai terjadi pilih kasih
9) Segera membagikan hasil pekerjaan
10) Memberikan esempatan bertanya jika terdapat kesalahpahaman
11) Memberikan kesempatan untuk memecahkan masalah bersama
12) Mengatur ruangan kelas yang menimbulkan kegairahan belajar
13) Bersedia meminta maaf dan memaafkan
14) Bekerja tepat pada waktunya
15) Merapikan dan menjaga kebersihan pakaian
16) Menyesuaikan bahan pelajaran dengan kemampuan siswa
17) Meberikan tugas dan memberikan hasilnya
Uraian di atas, ,memberikan gambaran bahwa dengan adanya pandangan beberapa ahli yang menekankan segi-segi tertentu pada motivasi tersebut justru mengisyaratkan agar guru bertindak taktis dan kreatif dalam mengelola motivasi belajar siswa. Motivasi belajar dihayati, dialami dan merupakan kekuatan mental pebelajar dalam belajar. Dari diri siswa, motivasi tersebut perlu dihidupkan terus untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan dijadikan dampak pengiring yang selanjutnya menimbulkan program belajar sepanjang hayat, sebagai perwujudan emansipasi, kemandirian yang terwujud dalam cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa, kemampuan siswa mengatasi kondisi lungkungan negative dan dinamika siswa dalam belajar. Dari sisi guru, motivasi belajar pada pebelajar berada pada lingkup program dan tindakan pebelajar. Oleh karena itu, guru berpeluang untuk meningkatkan, mengembangkan dan memeliharas motivasi belajar yang ada pada siswa. Dengan demikian, motivasi belajar pada siswa yang harus diidentifikasi oleh guru seyogyanya dikelola dalam acara pembelajaran
Guru yang seorang Quantum Teacher mempunyai ciri-ciri dalam
berkomunikasi yaitu :
a) Antusias : menampilkan semangat untuk hidup
b) Berwibawa : menggerakkan orang
c) Positif : melihat peluang dalam setiap saat
d) Supel : mudah menjalin hubungan dengan beragam peserta didik
e) Humoris : berhati lapang untuk menerima kesalahan
f) Luwes : menemukan lebih dari satu untuk mencapai hasil
g) Menerima : mencari di balik tindakan dan penampilan luar untuk menemukan nilai-nilai inti
h) Fasih : berkomunikasi dengan jelas, ringkas, dan jujur
i) Tulus : memiliki niat dan motivasi positif
j) Spontan : dapat mengikuti irama dan tetap menjaga hasil
k) Menarik dan tertarik : mengaitkan setiap informasi dengan pengalaman hidup peserta didik dan peduli akan diri peserta didik
l) Menganggap peserta didik “mampu” : percaya akan keberhasilan peserta didik
m) Menetapkan dan memelihara harapan tinggi : membuat pedoman kualitas hubungan dan kualitas kerja yang memacu setiap peserta didik untuk berusaha sebaik mungkin
a) Antusias : menampilkan semangat untuk hidup
b) Berwibawa : menggerakkan orang
c) Positif : melihat peluang dalam setiap saat
d) Supel : mudah menjalin hubungan dengan beragam peserta didik
e) Humoris : berhati lapang untuk menerima kesalahan
f) Luwes : menemukan lebih dari satu untuk mencapai hasil
g) Menerima : mencari di balik tindakan dan penampilan luar untuk menemukan nilai-nilai inti
h) Fasih : berkomunikasi dengan jelas, ringkas, dan jujur
i) Tulus : memiliki niat dan motivasi positif
j) Spontan : dapat mengikuti irama dan tetap menjaga hasil
k) Menarik dan tertarik : mengaitkan setiap informasi dengan pengalaman hidup peserta didik dan peduli akan diri peserta didik
l) Menganggap peserta didik “mampu” : percaya akan keberhasilan peserta didik
m) Menetapkan dan memelihara harapan tinggi : membuat pedoman kualitas hubungan dan kualitas kerja yang memacu setiap peserta didik untuk berusaha sebaik mungkin
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar
Secara umum, factor-faktor yang mempengeruhi motivasi belajar (Abimanyu, S , 2000: 90-91) yaitu : “1) Perhatian, 2) Relevansi, 3) Percaya Diri, 4) Kepuasan”. Berikut ini akan dijelaskan secara terperinci, yaitu:
1) Perhatian
Perhatian anak muncul didorong oleh rasa ingin tahu atau keinginan untuk memenuhi kebutuhannya, karena rasa ingin tahu itu perlu mendapat rangsangan sehingga anak akan memberikan perhatian. Perhatian tersebut diusahakan terpelihara dalam proses belajar berlangsung.
2) Relevansi
Relevansi menunjukkan adanya hubungan bahan pengajaran dengan kebutuhan dan kondisi anak. Motivasi anak akan terpelihara apabila merrka menganggap apa yang dipelajari itu memenuhi kebutuhan pribadi, atau bermanfaat dan sesuai dengan nilai yang dianut.
3) Percaya diri
Merasa diri kompeten atau mampu merupakan potensi untuk dapat berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Prinsip yang berlaku dalam hal ini adalah bahwa motivasi akan meningkatkan sejalan dengan meningkatnya harapan untuk berhasil. Harapan ini sering kali dipengaruhi oleh pengalaman sukses di masa lampau. Dengan demikian ada hubungan spiral antara pengalaman sukses dengan motivasi. Motivasi dapat menghasilkan, yang membawa keberhasilan (prestasi) dan selanjutnya pengalaman sukses tersebut akan memotivasi anak untuk mengerjakan tugas berikutnya.
4) Kepuasan
Keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan dan anak akan bermotivasi untuk berusaha untuk mencapai tujuan yang serupa. Kepuasan karena mencapai tujua yang dipengaruhi oleh konsekuensi yang diterima, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar anak.
Secara umum, factor-faktor yang mempengeruhi motivasi belajar (Abimanyu, S , 2000: 90-91) yaitu : “1) Perhatian, 2) Relevansi, 3) Percaya Diri, 4) Kepuasan”. Berikut ini akan dijelaskan secara terperinci, yaitu:
1) Perhatian
Perhatian anak muncul didorong oleh rasa ingin tahu atau keinginan untuk memenuhi kebutuhannya, karena rasa ingin tahu itu perlu mendapat rangsangan sehingga anak akan memberikan perhatian. Perhatian tersebut diusahakan terpelihara dalam proses belajar berlangsung.
2) Relevansi
Relevansi menunjukkan adanya hubungan bahan pengajaran dengan kebutuhan dan kondisi anak. Motivasi anak akan terpelihara apabila merrka menganggap apa yang dipelajari itu memenuhi kebutuhan pribadi, atau bermanfaat dan sesuai dengan nilai yang dianut.
3) Percaya diri
Merasa diri kompeten atau mampu merupakan potensi untuk dapat berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Prinsip yang berlaku dalam hal ini adalah bahwa motivasi akan meningkatkan sejalan dengan meningkatnya harapan untuk berhasil. Harapan ini sering kali dipengaruhi oleh pengalaman sukses di masa lampau. Dengan demikian ada hubungan spiral antara pengalaman sukses dengan motivasi. Motivasi dapat menghasilkan, yang membawa keberhasilan (prestasi) dan selanjutnya pengalaman sukses tersebut akan memotivasi anak untuk mengerjakan tugas berikutnya.
4) Kepuasan
Keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan dan anak akan bermotivasi untuk berusaha untuk mencapai tujuan yang serupa. Kepuasan karena mencapai tujua yang dipengaruhi oleh konsekuensi yang diterima, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar anak.