Jumat, 09 Agustus 2013

Agar Kehidupan dengan Pasangan Kita Tetap Hangat
Diinspirasikan  dari tulisan : Adam Muhammad

Secara teori seharusnya kita mampu memelihara suasana bulan madu hingga maut memisahkan kita dengan pasangan kita.
Cara untuk terus bisa menjaga kasih sayang kita seindah bulan madu, adalah adanya keinginan untuk saling memperbaiki diri, saling memahami, saling peduli dengan pasangan kita. Menambah pemahaman ita akan kekasih hati kita. Kita belajar bagaimana menghadapi episode ketika ia ngambek, ketika ia merajuk, ketika ia cemburu, ketika ia marah atau ketika ia lelah menghadapi anak-anak kita yang rewel. 
Ketika kita mampu mengelola kelebihan dan kelemahan pasangan hidup kita, maka saat itulah kita dapat menerimanya dengan sepenuh hati. Bersyukur dengan segala kelebihan miliknya dan bersabar atas segala kelemahan yang dimilikinya. Bukankah kita juga memiliki kelemahan juga.
Jangan pernah lelah untuk beromantis ria, menggunakan panggilan mesra, kata-kata cinta padanya, kata-kata indah yang keluar dari lisan untuk memujinya. Lakukanlah, dan nikmatilah suasana bulan madu sepanjang hayat.
Memberi kesempatan kepada pasangan kita untuk bertambah ilmunya dan beraktifitas yang manfaat. Bertambahnya ilmunya bukan hanya bermanfaat untuk dirinya semata, namun pasti akan  merembet pada kita dan anak-anak kita.
Jika cemburu muncul karena adanya kekhawatiran dalam diri kita, komunikasikanlah hal ini dengannya. Dan berilah ia kepercayaan bahwa ia bisa menjaga dirinya dan kehormatan keluarga kita. Insyaallah, dengan demikian ia pun terbang ke angksa kesuksesan mendampingi kita.
Penting untuk menghindari sikap menuntut pada pasangan hidup kita. Hindari sikap menonjolkan diri sendiri dan melemahkan pasangan kita. Jadikan keluarga sebagai sebuah team yang saling membantu, saling menjaga, saling memotivasi. Jagalah suasana berkeluarga dalam  kebersamaan dalam kehidupan yang bersahaja dan islami.
Jika demikian, maka kasih sayang antara kita dengan pasangan insyaallah akan terjaga. Dan nikmatilah hari-hari indah seindah bulan madu setiap harinya.
Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan beroleh keluarga sakinah mawaddah warohmah, dan mendapat perlindungan dan kemudahan menghadapi cobaan hidup dan keberkahan rezeki oleh Allah SWT.
Aamiin....


Jumat, 01 Februari 2013

Oase Allah Takkan Mengingkari JanjiNya

Allah Takkan Mengingkari JanjiNya
By : Muizzuddin

Mungkin suatu masa pernah terjadi....saat kita pinta cerahnya mentari, tapi ternyata mendung yang menggelayuti bahkan kemudian hujan petir ditemani badai mengguyur ganas. Marah kita dalam keadaan basah air mata, geram kita dalam kondisi kecewa. Merasa do'a dan pinta tak terbaca oleh Allah. Merasa harapan direalisasikan terbalik. Semua begitu gelap dalam kita menerima segala yang tak sesuai dengan sebuah ingin.

Betullah, terkadang apa yang terjadi dengan kita, tidaklah dapat membuat kita bahagia. Pasalnya, yang terjadi tidaklah sesuai dengan yang kita harapkan. Saat kondisi seperti ini, sering kita mengeluh, sering kita kecewa bahkan marah. Merasa Allah tidak adil dan telah mengingkari janjiNya.

Namun belum usai kita dalam kondisi terpuruk menerima keadaan, belum usai kita kecewa padaNya, ternyata kondisi gelap, hujan badai yang tengah kita terima, tiba-tiba reda dengan luluh lantaknya hati kita bangkit tersenyum puas karena mata disuguhi kilau indah pelangi.........Ternyata Allah tak ingin kita melihat cerahnya mentari, tapi lebih dari itu, Allah ingin kita menikmati indahnya warna pelangi...Subhanallah!

Sesungguhnya saat kita berada dititik dimana kita mendapati sesuatu yang tak sesuai dengan ingin kita, disinilah tersimpan sebuah makna. Saat do'a-do'a kita terdapati berbeda dengan kondisi yang kita terima. Inilah saat sebuah arti muncul untuk dimengerti. Bukan Allah yang mengingkari janjiNya, melainkan sebuah kondisi yang memang pantas kita terima saat ini. Ketika do'a tak terkabul, bisa jadi Allah akan mengabulkannya nanti, diwaktu yang tepat untuk kita atau bisa jadi do'a kita takkan baik untuk kita jika Allah mengabulkannya. Jelas Allah akan mengganti do'a do'a kita yang terbaik untuk kita. Karena Allah lebih tahu apa yang kita perlukan, bukan apa yang kita inginkan disetiap waktu dan kondisi. Untuk itu, berprasangka baiklah  dengan kehendak Allah, karena Allah takkan mengingkari janji.

Rabu, 23 Januari 2013

Menangis Karena Takut Allah


Kisah Teladan Menangis Karena Takut Allah
Rasulullah SAW bersabda,”Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah sehingga ada air susu yang kembali ke tempat asalnya.”
Dalam kita Daqa’iqul Akhbar menerangkan bahwa akan didatangkan seorang hamba pada hari kiamat nanti, dan sangatlah berat timbangan kejahatannya, dan telah diperintahkan untuk dimasukkan ke dalam neraka. Maka salah satu bulu matanya berkata,”Wahai Tuhanku, Rasul Engkau Nabi Muhammad SAW telah bersabda, siapa yang menangis karena takut kepada Allah SWT, maka Allah mengharamkan matanya itu ke neraka dan sesungguhnya aku menangis karena amat takut kepadaMu.”
Akhirnya Allah SWT mengampuni hambanya itu dan menyelamatkannya dari api neraka  berkat sehelai bulu mata yang pernah menangis karena takut kepada Allah SWT. Malaikat Jibril AS mengumumkan, telah selamat Fulan bin Fulan sebab sehelai rambut.
Dalam sebuah kitab lain, Bidayatul Hidayah, diceritakan bahwa pada hari kiamat nanti, akan didatangkan neraka jahannam dengan mengeluarkan suaranya, suara nyalaan api yang sangat menakutkan. Semua umat berlutut karena kesusahan menghadapinya. Allah SWT berfirman,”Kamu lihat pada hari itu setiap umat berlutut yakni merangkak pada lututnya. Tiap-tiap umat diseru kepada buku amalannya. (Dikatakan kepadanya) pada hari ini kamu dibalasi menurut apa-apa yang telah kau kerjakan.”(QS AlJatsiyah : 28)
Ketika mereka menghampiri neraka, mereka mendengar kegeraman api neraka dengan nyala apinya, dan diterangkan dalam kitab tersebut bahwa suara api neraka itu  dapat didengar sejauh 500 tahun perjalanan. Pada waktu itu, akan berkata setiap orang hingga Nabi-nabi dengan ucapan,”Diriku, diriku (selamatkanlah diriku ya Allah) kecuali hanya seorang nabi saja yang aka berkata,”Umatku, umatku.”
Beliau adalah junjungan besar kita Nabi Muhammad SAW. Pada masa itu akan keluarlah api neraka jahim seperti gunung-gunung, umat Nabi Muhammad berusaha menghalanginya dengan berkata,”Wahai api! Demi hak orang-orang yang sholat, demi hak orang-orang yang ahli sedekah, demi hak orang-orang yang khusyuk, demi hak orang-orang yang puasa, supaya engkau kembali.”
Walau dikata demikian, api neraka itu tetap tidak mau kembali, lalu malaikat Jibril  berkata,”Sesungguhnya api neraka itu menuju kepada umat Muhammad SAW.” Kemudian Jibril membawa semangkuk air dan Rasulullah meraihnya. Berkata Jibril AS,”Wahai Rasulullah ambillah air ini dan siramkanlah kepadanya.” Lalu Baginda mengambil dan menyiramkannya pada api itu, maka padamlah api itu.
Setelah itu Rasulullah SAW pun bertanya pada Jibril,”Wahai Jibril, apakah air itu?,” Maka Jibril berkata,”Itulah air mata orang dikalangan umatmu yang menangis karena takut kepada Allah SWT. Sekarang aku diperintahkan untuk memberikannya kepadamu, agar engkau menyiramkan pada api itu.” Maka padamlah api itu dengan izin Allah SWT.
Telah bersabda Rasulullah SAW,”Ya Allah anugerahilah kepada kami dua mata yang menangis karena takut kepada-Mu, sebelum tidak ditemukannya air mata.”
(1001 kisah teladan)