Sabtu, 22 Oktober 2011

Motivasi Belajar Anak

Telah hampir 5 tahun saya menjadi guru privat.  Banyak pengalaman yang saya miliki tentang pola asuh anak yang sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar anak.
Sebagian besar keluarga yang mampu, kurang memberi perhatian kepada putra-putrinya karena semua perhatiannya tercurah pada kesibukannya masing-masing.Mereka beranggapan dengan materi mereka bisa membahagiakan anak.Sehingga anak dibebaskan tanpa aturan yang jelas. Hasilnya anak akan kehilangan kontrol mereka jadi kurang mandiri, kurang bisa bergaul, dan hidup bermalas-malasan.
Ada juga yang terlalu mengekang anak. Perhatian memang, tapi anak dituntut melebihi kemampuannya. Ikut les bimbel, ikut les dengan guru, ikut les bakat seperti balet/piano. Sampai sampai mungkin anak begitu tertekan dan kelelahan. Kalau sudah begini nantinya si anak akan mencari pelarian dari rasa tertekannya itu.

Saya merasakan betul kemajuan teknologi yang ada sekarang ini hebat!!. Tapi semangat dan motivasi anak semakin menurun karena kesalahan pola asuh orang tua mereka. Kenakalan anak-anak pun semakin tahun saya rasakan semakin meningkat. Dengan banyaknya sinetron-sinetron dan film-film tidak mendidik. Kapan dong kita membuat film yang mendidik tidak hanya kejar tayang karena banyak yang menonton. Bukankah sudah saatnya kita membangun generasi indonesia yang lebih baik dengan tayangan-tayangan yang mendidik??

Pada dasarnya anak membutuhkan lebih penting dari sebuah materi, mereka butuh perhatian, kasih sayang, semangat, dan pengalaman hidup yang perlu dibagikan agar si anak bisa mengambil maknanya. Jangan lupa terus jalin komunikasi dengan si anak apa yang mereka butuhkan dan inginkan, ajari mereka ilmu dan agar mereka tahu mana yang benar dan salah. Serta tanamkan kehidupan religius sedini mungkin.
Untuk siswa setaraf kelas 5 SD atau bahkan 6 SD saja mereka tidak mengetahui untuk apa mereka belajar. rata-rata mereka beralasan belajar untuk mendapat uang saku lebih, atau untuk membahagiakan orang tua.
 Anak yang bisa memahami belajar rata-rata usia kelas 6 SD ke atas, itupun didukung oleh kondisi lingkungan yang mensupport mereka. Dan teladan yang mereka anut.
Banyak anak-anak dan pemuda yang hidup tanpa landasan spiritual yang  cukup, jika hidup di keluarga kaya akan lahir jadi anak yang angkuh, semena-mena, bermegah-megahan. Jika hidup di keluarga miskin bisa jadi akan mengambil jalan yang salah seperti mencuri, prostitusi, menipu sanasini.
Telah banyak orang yang pandai berbakat tapi hidupnya tidak disentuh agama, yang ada akan depresi dalam menghadapi hidup dan ini yang nanti akan menjadi penyakit dalam masyarakat.
Sebagai guru saya sangat ingin sekali adanya perhatian lebih dari orang tua untuk lebih memperhatikan anaknya intinya : Komunikasi-disiplin-do'a. Semoga bermanfaat!! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar